TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Jatuh Bangun Pelajar SMA Boyolali Ikut Kompetisi di AS

Latifah nyaris tak berangkat karena tak ada dana.
Jatuh Bangun Pelajar SMA Boyolali Ikut Kompetisi di AS
Latifah Maratun Sholikhah. (VIVA.co.id/Avra Augesty)

VIVA.co.id – Gadis ini melangkah mantap menuju sekolahnya dengan mengendarai sepeda motor. Pagi itu, setelah mencium kedua tangan orangtuanya, Latifah Maratun Sholikhah menyusuri jalanan dari rumahnya di Jalan Hendrokilo RT 5 RW 2, Nepen, Teras, Boyolali, Jawa Tengah, menuju SMA Negeri 1 Teras Boyolali.

Siswi kelahiran Boyolali, 11 Januari 2000 itu memang berniat menemui Kepala Sekolah Wakimun dan Kunto Susatyawan selaku guru pembimbingnya. Gadis 17 tahun tersebut hendak mengajukan proposal permohonan bantuan dana untuk keberangkatannya ke California, Amerika Serikat.

Latifah akan bertandang ke Negeri Paman Sam untuk menuntut ilmu melanjutkan mimpinya sebagai seorang peneliti muda.

Karya ilmiahnya yang berjudul "Neglected Children: Case Study of Public Attitudes toward Children with HIV AIDS in 6 Sub-Districts in Surakarta" berhasil lolos seleksi ke ajang bergengsi Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF).

Dengan demikian, gadis berjilbab dan berkacamata ini berhak untuk terbang ke Los Angeles, California, untuk mengikuti proses penjurian tahap akhir. Sayang, dana menjadi hambatan Latifah untuk berangkat.

Uang saku yang menjadi jaminan hidupnya selama di AS tidak ada. Hal ini dikarenakan Latifah berasal dari keluarga yang pas-pasan. Ayahnya, Surtono, hanya bekerja sebagai petani dan sang ibu, Siti Fatimah, mencari nafkah sebagai buruh pabrik.

Dibantu Bupati

Kendati demikian, hal itu tidak menjadikan Latifah patah arang. Dengan dukungan penuh dari orangtua dan sekolah, bagaimana pun juga, Latifah harus bisa meraih mimpinya yang tinggal selangkah lagi.

Alhasil, bantuan dari Pemerintah Kabupaten Boyolali mengalir. Bupati Seno Samodro tanpa pikir panjang langsung memberikan uang saku untuk Latifah melalui proposal yang diajukannya.

"Ini perjuangan berat banget. Jadi, setelah tahu terpilih oleh LIPI, saya masih enggak percaya kalau saya lolos. Walaupun ternyata nyaris gagal berangkat ke AS karena tak punya uang saku. Karena itu sendiri-sendiri, bukan dari LIPI atau pun pihak penyelenggara ISEF," katanya kala berbincang dengan VIVA.co.id di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Senin 22 Mei 2017.

Ia melanjutkan cerita ketika sekolahnya mengajukan proposal ke Pemkab Boyolali. Tak disangka langsung disetujui. "Pak Bupati (Seno Samodro) baik banget, waktu sekolah bilang kalau saya butuh uang buat ikut kompetisi ini, beliau langsung kasih. Katanya buat pendidikan enggak apa-apa," ujar Latifah, semringah.

Peran Wakimun dan Kunto dinilai sangat membantu kelancaran keberangkatan remaja yang bercita-cita menjadi bidan ini. Mereka bahkan sempat menangis saat mengetahui kalau Latifah tak bisa ikut rombongan ke California.

Solusi, tak sekadar teori

"Sempat menangis, sekolah sempat rapat, sudah pesimis lah pokoknya. Bantuan datang dari Pemkab Boyolali langsung cair Rp100 juta," papar anak pertama dari dua bersaudara ini.

Usaha tak kenal menyerah membuahkan hasil yang membanggakan. Setelah berjuang keras demi mempresentasikan hasil karyanya, Latifah berhasil menyabet penghargaan utama (Grand Awards).

Gadis yang selalu mendapat peringkat lima besar di sekolahnya ini meraih gelar sebagai "4th Place Grand Awards in Category of Social and Behavioral Sciences".

Penelitian yang dilakukan Latifah mengangkat tema tentang kehidupan sosial anak penyandang HIV AIDS di enam kelurahan di Surakarta. Berangkat atas dasar keprihatinan, Latifah melakukan observasi langsung ke lapangan. Sebanyak 350 angket disebar olehnya di sana.

"Saya ingin lebih ditekankan ke pemahaman masyarakat. Jangan takut buat menyentuh anak di bawah umur yang terjangkit virus ini. Mereka enggak harus hidup terisolasi dari dunia anak seusia mereka. Jadi saya ingin ada solusi, bukan menakut-nakuti masyarakat tentang HIV AIDS," jelasnya.

Saat ini, Latifah telah diterima sebagai mahasiswa baru di Poltekes Surakarta jurusan Kebidanan, meski sebenarnya dia juga diterima di Universitas Gadjah Mada jurusan Teknik Sipil. Ke depannya, dia berharap akan ada sosialisasi penuh mengenai HIV AIDS di lingkup tempat tinggalnya. Tak sekadar teori, namun juga praktik. (one)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP