TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

'Branch Block', Turap Antilongsor Ramah Lingkungan

Turap ini diklaim ramah lingkungan dan tahan lama dari konvensional.
'Branch Block', Turap Antilongsor Ramah Lingkungan
Ilustrasi dinding turap. (ANTARA FOTO/Andika Wahyu)

VIVA.co.id – PT Proanda Sinergi Indonesia (PSI) memperkenalkan “Branch Block”, metode turap antilongsor baru dengan teknologi Jepang untuk kebutuhan di Indonesia.

Direktur Utama PSI, Suyoto Rais, mengatakan, metode turap ini pertama kali dikembangkan di Jepang dan akan diperkenalkan secara luas kepada para pihak untuk membantu menangani masalah longsor di Indonesia.

Ia berkeyakinan bahwa metode ini akan sangat cocok diaplikasikan di Indonesia dan hak patennya di Indonesia juga telah didaftarkan oleh PSI.

"Sebagian besar kontur tanah di Indonesia mudah bergeser dan rawan longsor. Saya yakin BB akan menjadi solusi terbaiknya untuk mengatasi masalah longsor di Indonesia," kata Suyoto, melalui keterangannya, Senin, 22 Mei 2017.

Ia menjelaskan, BB menggunakan batu alam dan blok beton sebagai pengikatnya. Di Indonesia, dapat digunakan di bantaran sungai, pantai, tebing, area pegunungan dan lain-lain lahan yang berpotensi longsor.

Apabila dibandingkan turap konvensional yang selama ini digunakan, BB lebih kokoh dan ramah lingkungan. "BB tidak rusak meskipun tanahnya bergeser karena masing-masing blok disambungkan tanpa ikatan mati. Fleksibel mengikuti lekukan dan tinggi rendah lahan," papar dia.

Suyoto melanjutkan kalau BB ramah lingkungan karena bahan utamanya batu yang dapat menyatu dengan tanah sekitarnya, sehingga semakin lama sedimentasi tanah semakin melekat ke turap.

Selain itu, jelas Suyoto, karena itu ketahanannya sangat lama, minimal seusia dengan blok beton yang tidak lapuk selama puluhan tahun. Sementara turap konvensional sangat peka terhadap perubahan kekuatan alam seperti saat hujan lebat yang mengakibatkan tekanan air tanah meningkat atau tanah bergeser.

Dengan begitu, turap konvensional akan mudah rusak. Turap konvensional hanya tahan pada saat posisi dan bentuk turap masih seperti semula. Dari segi biaya, turap BB juga lebih murah dan pemasangannya cepat.

Oleh karena itu, jika ada turap yang memiliki ketahanan lama dan ramah lingkungan, kenapa tidak dicoba. Sebab, ini sekaligus untuk pelestarian alam dan merupakan keuntungan jangka panjang.

Sejarah awal pembuatan BB bermula dari keprihatinan Takaaki Yoshimura di Jepang, seorang pembuat taman profesional, melihat kelemahan turap konvensional yang ada dan kecintaannya terhadap konstruksi batu. 

Kemudian, ia melakukan uji coba yang tidak mudah lebih dari enam tahun. BB dipasang pertama kali pada 2003 sebagai penahan longsor di bantaran Sungai Osaba, Prefektur Yamaguchi.

KOMENTARI ARTIKEL INI
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP