TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Jurus Astronomi Bisa Dipakai Lawan Kanker

Algoritma astronomi bisa dipakai untuk analisis data kanker.
Jurus Astronomi Bisa Dipakai Lawan Kanker
Ilustrasi sel kanker. (Pixabay/skeeze)

VIVA.co.id – Penyakit kanker bukan hanya menjadi perhatian masalah kesehatan saja. Sebab penyakit mematikan itu telah menjadi perhatian lintas sektoral. Astronom turut memikirkan bagaimana menanggulangi penyakit tersebut. 

Dikutip BBC, Senin 13 Maret 2017, dalam sebuah pertemuan ilmuwan lintas disiplin ilmu di Cambridge, Ingris, para astronom dan onkologis berkumpul mendiskusikan manajemen data untuk penanggulangan penyakit dan analisis data. 

Dalam pertemuan tersebut diskusi yang menarik yakni bagaimana mengambil teknik analisis dalam dunia astronomi untuk membantu menanggulangi kanker. 

Dalam pertemuan tersebut, ilmuwan yang bekerja di Cancer Reserach United Kingdom, Carlos Caldas mengutarakan apakah teknik dalam astronomi bisa dipakai untuk analisis data penyakit kanker. 

"Astronom melihat gambar-gambar langit, tapi mereka tidak bisa menyaring jutaan gambar dengan tangan. Jadi mereka menggunakan algoritma pencitraan sehingga mereka bisa menganalisis dan mengelompokkan objek," ujar Caldas. 

Kemudian dia melanjutkan, hampir sama dengan dalam dunia astronomi, peneliti kanker memeroleh data dari tubuh manusia, tapi peneliti sampai saat ini terbatas dalam mengeksplorasi data. Caldas bertanya apakah bisa menggunakan algoritma yang dipakai astronom bisa dipakai untuk analisis penyakit kanker.

Ternyata hal itu memungkinkan. Algoritma pencitraan yang dipakai astronom untuk analisis data bisa dimanfaatkan untuk memelajari kanker. 

Maka dengan menggunakan algoritme astronomi, peneliti kanker bisa secara otomatis mengelompokkan ratusan ribu sel. 

"Kemudian kami bisa melihat polanya, bagaimana asel terkait dengan sel lainnya. Kami juga bisa dengan tepat menghitung mereka dan menemukan rata-rata jarak antar sel-sel," jelas Caldas. 

Caldas mengatakan, big data dan algoritma pencitraan yang dipakai astronom bisa memercepat diagnosis dan memungkinkan peneliti kanker mengambil informasi yang sebelumnya telah tersembunyi. 

"Ini sungguh mengubah patologi ke dalam realisme digital," ujarnya. 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP