TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Tujuh Komoditas Ini Sering Dipalsukan

Tinta printer jadi komoditas paling sering dipalsukan.
Tujuh Komoditas Ini Sering Dipalsukan
Sekretaris Jenderal MIAP, Justisiari P. Kusumah (VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto)

VIVA.co.id – Berdasarkan data yang dirilis Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), setidaknya ada tujuh komoditas yang sering dipalsukan. Data tersebut merupakan hasil riset yang dilakukan MIAP dari kurun waktu 2010 hingga dirilis pada 2014.

Dari riset tersebut, tujuh komoditas yang sering dipalsukan yaitu komoditas tinta printer dengan persentase 49,4 persen, kemudian pakaian (38,9 persen), kulit (37,2 persen), piranti lunak (33,5 persen), kosmetik (12,6 persen), makanan (8,5 persen), dan obat-obatan (3,8 persen).

“Kenapa tinta printer yang paling tinggi? Karena alasannya soal kebutuhan dan efeknya kecil. Makanya obat paling rendah, karena konsumen tahu kalau mengonsumsinya bisa sakit atau mati,” ucap Sekretaris Jenderal MIAP, Justisiari P. Kusumah di Jakarta, Selasa 29 November 2016.

Justisiari menjelaskan, riset MIAP tentang komoditas yang sering dipalsukan memang kategorinya secara offline. Meski demikian, peredaran barang palsu pada platform daring (online) diperkirakan angkanya besar.

“Bisa 80 persen peredaran barang bajakan, ilegal, dan palsu beredar di online, tapi itu data belum resmi seperti yang kita lakukan pada tujuh barang yang kami riset sebelumnya,” ujarnya menambahkan.

Dia menjelaskan, alasan besarnya peredaran barang palsu dan bajakan pada platform daring (online),yaitu karena tidak ada interaksi antara pedagang dan pembeli untuk mengetahui atau mengecek keaslian barang tersebut.

E-commerce jadi celah baru (jalur pembajakan). Kalau dulu traditional market, sekarang online karena tidak interaksi fisik antara penjual dan pembeli,” ujarnya.

Dengan kampanye Clean E-Commerce yang digalang oleh Microsoft Indonesia dengan menggandeng Bhinneka, Blibli, Blanja, JD, dan Lazada Indonesia, dinilai menjadi cara untuk memberangus produk palsu, khususnya soal piranti lunak.

“Ke depan harus ada kerja sama sinergi untuk peredaran barang palsu di online, baik itu brand dan juga pelaku e-commerce. Sebab, persoalan ini tak bisa dilakukan sendirian.”

(mus)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP