TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Nyamuk Aedes Aegypti Ber-wolbachia Bukan Rekayasa Genetik

Bakteri Wolbachia untuk eliminasi demam berdarah dengue.
Nyamuk Aedes Aegypti Ber-wolbachia Bukan Rekayasa Genetik
Nyamuk aedes aegepty pembawa virus zika. (REUTERS/Paulo Whitaker)

VIVA.co.id – Teknologi bakteri Wolbachia untuk melawan demam berdarah dengue sudah dikembangkan peneliti di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Namun, masih ada kekurangan informasi terkait teknologi tersebut. 

Salah satu proyek mengeliminasi demam berdarah dengue dengan teknologi Wolbachia yaitu Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Dalam keterangannya kepada VIVA.co.id, Senin 28 November 2016, EDP Yogyakarta menegaskan teknologi Wolbachia bukan merupakan proses rekayasa genetika.  

EDP Yogyakarta menjelaskan, Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat dalam 60 persen jenis serangga, namun tidak terdapat dalam nyamuk Aedes aegypti. Wolbachia dalam tubuh nyamuk ini berfungsi untuk menghambat penularan virus dengue. Wolbachia telah terbukti aman untuk manusia dan lingkungan. 

“Teknologi Wolbachia yang dikembangkan oleh EDP Yogyakarta bekerja sama dengan EDP Global bukan merupakan Genetic Modified Organism (GMO). Seluruh proses penelitian untuk mentransfer Wolbachia ke dalam Aedes aegypti dan pengembangan Aedes aegypti ber-Wolbachia tidak pernah melibatkan proses rekayasa genetik, baik pada nyamuk Aedes aegypti maupun Wolbachia-nya,” ujar Bekti Andari, Divisi Komunikasi dan Media Team Leader EDP Yogyakarta. 

Dalam interaksinya, Wolbachia tidak mengubah genetik Aedes aegypti, maupun sebaliknya Aedes aegypti tidak mengubah genetik Wolbachia. Hal ini juga dikuatkan dengan hasil penilaian dari lembaga Australian Government Department of Health and Ageing Office of Gene Tecnology Regulator pada 2010.

Wolbachia merupakan parasit obligat yang ditemukan pada banyak jenis arthropoda (antara lain serangga, udang-udangan, laba-laba) dan nematode (cacing). Wolbachia mempunyai keragaman jenis yang sangat tinggi.

“Pernyataan mengenai Aedes aegypti yang disuntikkan Wolbachia akan menambah vektor filaria kurang tepat, karena sesungguhnya membahas dua jenis Wolbachia yang berbeda,” kata dia.

EDP Yogyakarta memanfaatkan Wolbachia yang diperoleh dari serangga lalat buah Drosophila melanogaster. Wolbachia jenis ini sangat berbeda dengan Wolbachia yang menginfeksi pada nematoda atau cacing patogen filariasis atau kaki gajah.

Wolbachia yang ada di tubuh filarial memang meningkatkan virulensi patogennya. Namun, Wolbachia serangga yang dikembangkan EDP Yogyakarta justru mempunyai peran sebaliknya, yaitu mampu menekan replikasi beberapa patogen yang ditularkan Aedes aegypti ke manusia seperti dengue, demam kuning (yellow fever), chikungunya, Zika, dan juga filariasis. 

Di Indonesia, penelitian ini dilakukan di Yogyakarta dan didanai oleh Yayasan Tahija. Sejak Agustus 2016, penelitian ini memasuki tahap pelepasan skala luas di Kota Yogyakarta dengan menitipkan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di sebagian rumah-rumah warga Kota Yogyakarta. 

Harapannya, telur nyamuk tersebut akan menetas menjadi nyamuk dewasa, berkembang biak dan menghasilkan keturunan yang ber-Wolbachia. Dalam kurun waktu tertentu, diharapkan sebagian besar nyamuk di Kota Yogyakarta akan ber-Wolbachia dan mampu melindungi manusia dari penularan demam berdarah dengue.

Hasil monitoring pelepasan terbatas di Sleman dan Bantul hingga saat ini telah menunjukkan, Wolbachia mampu berkembang biak alamiah, frekuensi Wolbachia bertahan relatif tinggi dan tidak terdapat penularan lokal DBD yang signifikan pada wilayah tersebut. 

Tim independen yang dibentuk oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan PendidikanTinggi (Kemenristekdikti) bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan juga telah melakukan kajian analisis risiko terhadap penelitian EDP Yogyakarta pada Juni-September 2016. Hasilnya menunjukkan, penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) yang digawangi oleh EDP Yogyakarta dengan teknologi Wolbachia ini dinyatakan aman atau memiliki risiko yang dapat diabaikan (negligible risk).

Kajian yang diketuai oleh Damayanti Buchori, profesor dari Institut Pertanian Bogor menilik risiko dari empat aspek yaitu ekonomi dan sosio-kultural, pengendalian vektor, ekologi, serta kesehatan masyarakat. 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP