TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Soal TKDN, TP-Link Berhitung Nilai Investasi

TP-Link menunda debut smartphone karena belum lulus aturan TKDN.
Soal TKDN, TP-Link Berhitung Nilai Investasi
Booth TP-Link di Indocomtech 2016 (Facebook/TP-Link)

VIVA.co.id – TP-Link, perusahaan pembuat produk jaringan komputer asal Tiongkok menunda rilis produk smartphone perdana mereka di Indonesia. Pada Agustus lalu, TP-Link sudah mengenalkan smartphone debut bernama Neffon dengan dua tipe Neffon, yaitu C5 dan C5L. Penundaan debut smartphone itu terkait dengan pengurusan izin Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). 

Untuk itu, TP-Link merencanakan merilis C5 dan C5L setelah urusan TKDN untuk persiapan smartphone 4G besutan TP-Link. 

"Kami mempersiapkan jaringan basis ini untuk tidak sekali jualan saja, karena peraturan TKDN sendiri kan tidak berjalan tidak hanya setahun, tapi seterusnya. Maka dari itu, kami terus mempertimbangkan sisi aspek apa yang harus kita naikkan," ujar Product Development dan Marketing Head TP-Link Indonesia, Daniel Thian, saat ditemui di booth TP-Link dalam pameran Indocomtech di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu 2 November 2016.

Salah satu yang masih diperhitungkan soal TKDN, kata Daniel, adalah terkait investasi. TP-Link masih menghitung jumlah investasi yang bakal mereka tanamkan di Indonesia. 

Investasi itu merupakan ketentuan aturan pemerintah Indonesia yang mewajibkan TKDN 30 persen pada 2017. TP-Link. Untuk itu, kata Daniel, perusahaannya masih mempertimbangkan porsi aturan 30 persen tersebut. 

"Saat ini sementara di-hold (informasi seberapa persen persiapan TKDN TP-Link). Melihat perkembangan lanjut TKDN ini," kata Daniel. 

Namun demikian, dia menegaskan, TP-Link masih tetap dalam proses pengurusan TKDN. 

Sebelumnya, Daniel mengatakan, mengenai pembagian posisi kandungan software, TP-Link telah menemukan pengembang untuk memperluas fungsi gawai besutannya. Dalam penghitungan baru TKDN, dibuat lima skema komposisi TKDN smartphone 4G LTE. Skema pertama berupa 100 persen TKDN perangkat keras (hardware) dan nol persen perangkat lunak (software). Kedua, 75 persen hardware dan 25 persen software.

Ketiga, 50 persen hardware dan 50 persen software. Keempat, 25 persen hardware dan 75 persen software. Terakhir adalah nol persen hardware dan 100 persen software.
 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP