TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Terkuak Misteri 'Segitiga Bermuda' di Luar Angkasa

Satelit Eropa sempat hilang saat terbang di Segitiga Bermuda antariksa
Terkuak Misteri 'Segitiga Bermuda' di Luar Angkasa
Tiga satelit dalam misi Swarm (www.esa.int)

VIVA.co.id – Ilmuwan Badan Antarika Eropa (ESA) kini telah berhasil membongkar misteri matinya fungsi satelit di area 'Segitiga Bermuda' di luar angkasa. 

Badan antariksa itu beberapa waktu lalu mengalami dan menyaksikan bagaimana misi Swarn yang terdiri dari tiga satelit mengalami gangguan saat melintasi 'Segitiga Bermuda' di antariksa. Tiba-tiba tiga satelit itu hilang tak terdeteksi.

Area yang disebut 'Segitiga Bermuda' itu berada di atas ekuator antara Amerika Selatan dan Afrika. Beberapa waktu lalu ilmuwan ESA dibuat pusing, saat tiba-tiba satelit misi Swarm hilang kontak dan itu hanya terjadi pada malam hari di area 'Segitiga Bermuda' di luar angkasa tersebut. Meski pusat kendali menerima data dari satelit tersebut, saat itu tidak bisa dipastikan informasi posisi, waktu dan lokasi satelit tersebut. 

Dikutip dari Wired, Selasa, 11 Oktober 2016, setelah diselidiki akhirnya ilmuwan menemukan penyebabnya adalah hujan badai di ionosfer yang berada di ketinggian antara 300 sampai 600 kilometer di atas permukaan Bumi. 

"Hujan badai di ionosfer telah lama diketahui, tapi itu baru sekarang terkait langsung dengan hilangnya sinyal GPS (pada satelit Swarm)," ujar Claudia Stolle, profesor ilmuwan proyek Swarm di pusat kendali GeoForschungsZentrum Potsdam di Jerman. 

Stolle menjelaskan, biasanya hujan badai tersebut terjadi selama satu atau dua jam antara waktu matahari terbenam dan tengah malam. Badai di antara waktu itu biasanya menyebabkan hilangnya sinyal GPS dari satelit Swarm selama beberapa menit. 

Ilmuwan ESA mengatakan, mereka bisa melacak biang hilangnya sinyal GPS pada satelit Swarm berkat detektor GPS dan magnetik yang ada pada satelit tersebut. 

Peneliti mengatakan, hubungan antara hilangnya sinyal GPS dan hujan badai ionosfer memberikan cara baru bagi dalam menyelidiki sistem tak beraturan di ionosfer. Penemuan itu juga bisa membantu mengaitkan perubahan aktivitas magnetik surya di area tersebut. 

Misi Swarm diluncurkan pada 2013 dengan mengirimkan tiga satelit yaitu satelit Alpha dan Charlie yang terbang beriringan di atas ketinggian 450 kilometer dari Bumi. Satelit ketiga yaitu Bravo yang terbang lebih sedikit tinggi dari Alpha dan Charlie. 

Ketiga satelit itu bertugas memetakan medan magnetik Bumi dengan resolusi dan presisi yang lebih baik dibanding misi yang pernah ada. (ase)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP