TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Satelitnya Meledak, Bos Facebook Kecewa Berat

Satelit dijadwalkan diluncurkan pada 3 September 2016
Satelitnya Meledak, Bos Facebook Kecewa Berat
Mark Zuckerberg saat bicara berbahasa mandarin di Universitas Tsinghua, China. (Facebook Mark Zuckerberg)

VIVA.co.id – Meledaknya roket Falcon 9 yang akan meluncurkan satelit komunikasi AMOS-6 pada 1 September 2016 membuyarkan ambisi Facebook untuk memberikan layanan internet dari orbit.

Sedianya, melalui satelit itu, akan membantu Facebook untuk menyokong program Internet.org, sebuah program akses internet untuk area miskin akses internet.

Meledaknya roket milik SpaceX itu terdengar ke telinga pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Saat roket meledak, Chief Executive Officer (CEO) Facebook itu sedang berada di Afrika. Zuckerberg pun merasakan kekecewaan dengan insiden itu.

"Saya di Afrika. Saya sangat kecewa mendengar kegagalan peluncuran roket SpaceX yang menghancurkan satelit kami, untuk memberikan konektivitas ke banyak pengusaha dan orang lain di seluruh benua (Afrika)," kata dia dalam akun Facebooknya, 1 September 2016.

Meski kecewa berat, tapi bos Facebook itu mengaku masih bisa tegar, sebab perusahaan media sosial itu sudah menyiapkan beberapa teknologi konektivitas internet.

"Untungnya, kami telah mengembangkan teknologi lain seperti Aquila, yang akan menghubungkan orang (ke internet)," tutur dia.

Aquila merupakan drone tenaga surya yang dikembangkan oleh Facebook untuk menyebarkan akses internet ke negara-negara yang tak memiliki infrastruktur telekomunikasi.

Zuckerberg menegaskan, Facebook akan terus berkomitmen menghubungkan orang di seluruh dunia dengan layanan internet.

"Kami akan terus bekerja hingga semua orang memiliki kesempatan sampai satelit itu tersedia," ujar dia.

Rencananya, satelit Facebook itu akan diluncurkan pada 3 September. Dengan demikian, meledaknya roket membuyarkan ambisi besar Facebook.

Facebook dan penyedia satelit asal Prancis, Eutelsat, telah menggelontorkan dana US$95 juta untuk menyewa dan meluncurkan satelit tersebut.

Terkait dengan insiden itu, SpaceX mengatakan terdapat anomali di fasilitas Cape Canaveral yang menyebabkan kegagalan.

"Anomali berasal di sekitar tangki oksigen atas dan itu terjadi selama pemuatan bahan bakar ke roket. Sesuai prosedur standar, semua personal aman dan tidak ada yang terluka," tulis SpaceX dalam pernyataan melalui Twitter.

Perusahaan swasta yang didirikan Elon Musk itu menegaskan, mereka akan terus mengulas data untuk mengidentifikasi penyebab pasti meledaknya roket tersebut.

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP