TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
TEKNOLOGI

Hanya Telkom Group Tolak Biaya Interkoneksi Turun

Sebab tarif yang ditentukan bukan kesepakatan semua operator
Hanya Telkom Group Tolak Biaya Interkoneksi Turun
RDP Operator Telekomunikasi dengan Komisi I. (Agus Tri/VIVA.co.id)

VIVA.co.id – Seluruh operator telekomunikasi memenuhi panggilan dari Komisi I DPR soal klarifikasi polemik perhitungan biaya interkoneksi. Dari seluruh operator, hanya Telkom Group yang tak ingin biaya interkoneksi turun.

Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga secara tegas menolak upaya pemerintah dalam memangkas biaya interkoneksi dari Rp250 per menit menjadi Rp204 per menit. Bahkan, kata dia, hasil perhitungan yang menghasilkan Rp204 per menit bukan berdasarkan keputusan semua operator.

"Atas nama Telkom dan Telkomsel, kembali ke saran kami dilihat dari undang-undang yang berlaku, jangan sampai biaya interkoneksi itu ada yang dirugikan dan ada yang diuntungkan, karena biaya interkoneksi itu cost recovery," ucapnya di Ruang Komisi I, Gedung DPR RI, Jakarta, kemarin.

Penolakan itu, kata Alex, lantaran Telkom bersama anak perusahaannya, yaitu Telkomsel, telah membangun infrastruktur ke wilayah daerah pelosok. Langkah itu tidak dilakukan oleh operator lainnya yang memiliki tanggung jawab yang sama.

"Dilihat dari negara kepulauan lain, seperti di Jepang dan Filipina bahwa biaya interkoneksi Indonesia jauh lebih murah. Penurunan tidak akan menguntungkan industri telekomunikasi, karena jadi tidak sehat," ujar Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah.

Nada berbeda disampaikan President Director & Cehif Executive Officer (CEO) Indosat Ooredoo, Alexander Rusli. Dia mengatakan, sudah barang tentu operator harus mendukung rencana pemerintah dalam penurunan biaya interkoneksi, meskipun besaran penurunan Rp204 per menit belum sesuai harapan.

"Kami menerima keputusan pemerintah untuk penurunan biaya interkoneksi. Beri kesempatan kepada kami agar bisa berkompetisi. Penurunan biaya interkoneksi bisa membuat kita memberikan layanan yang bervariasi dan harga terjangkau kepada pelanggan," tutur Alexander.

Sedangkan President Director & CEO XL Axiata, Dian Siswarini, mengungkapkan XL mendukung rencana penurunan biaya interkoneksi pemerintah.

"Angka penurunan biaya interkoneksi masih jauh dari harapan, tapi ingin pemerintah segera mengimplementasikannya segera," ucap Dian.

Gelombang dukungan Kementerian Komunikasi dan Informatikan (Kominfo) soal penurunan biaya interkoneksi juga terucap dari Smartfren Telecom dan Hutchinson 3 Indonesia.

"Tolong kami yang belum berkembang ini, tetap bisa berkesempatan lebih berkembang karena cost yang kami bayarkan untuk interkoneksi jauh lebih besar secara persentase kawan-kawan yang sudah established. Penurunan sekitar 26 persen bisa membantu kesehatan Smartfren," ucap Direktur Utama Smartfren Merza Fachys.

"Turunnya biaya interkoneksi ini akan membuat kami jauh lebih bersaing lebih besar layanan yang bervariasi. Kami berharap, turunnya interkoneksi turut menurunkan tarif ritel kita untuk panggilan ke operator lain," tutur Wakil Presiden Direktur Tri PT Hutchison 3 Indonesia, M. Danny Buldansyah.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP