TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

5 Tahun Lagi, Indonesia Jadi Silicon Valley ASEAN

Pertumbuhan startup di Indonesia cukup potensial
5 Tahun Lagi, Indonesia Jadi Silicon Valley ASEAN
Ilustrasi Startup (Pixabay)

VIVA.co.id – Indonesia tak ubahnya menjadi calon negara yang akan berpotensi dalam bidang teknologi, apabila sektor tersebut dikelola dengan benar dan tepat. Bahkan, diprediksi sekitar lima tahun lagi, Indonesia bisa disandingkan dengan Silicon Valley-nya di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Pernyataan itu diungkapkan oleh Chief Executive Officer & General Partner Fenox Venture Capital (Fenox VC) Anis Uzzaman. Dia mengatakan, kondisi Indonesia yang saat ini mulai bermuculan berbagai perusahaan rintisan (startup) membuatnya teringat Silicon Valley.

Anis menjelaskan, startup di Indonesia harusnya beruntung, karena dilihat dari jumlah penduduknya yang sekitar 250 juta jiwa itu menjadi sebuah pasar yang sangat besar, sehingga berpotensi untuk mendukung kelanjutan para pelaku usaha yang bergelut di dunia startup.

"Jadi, Indonesia punya posisi yang bagus. Sekitar tiga atau lima tahun lagi, Indonesia bisa menjadi Silicon Valley di kawasan ASEAN, karena startup yang ada di sini sama banyaknya dengan yang ada di sana (Silicon Valley)" ujar Anis ditemui di acara Startup World Cup, di Balai Karitini, Jakarta, semalam.

Untuk informasi, Fenox merupakan perusahaan pemodal ventura untuk para startup digital yang berbasis di Amerika Serikat. Sementara Silicon Valley merupakan daerah di San Francisco, AS yang menjadi markas banyak perusahaan teknologi.

"Indonesia dan Silicon Valley sama-sama tengah tumbuh dan pergerakan startup terus berlanjut. Apalagi, sekarang upaya melahirkan startup terus dilakukan," ucapnya.

Meski memiliki potensi untuk menyanding 'gelar' Silicon Valley-nya di Asia Tenggara, tapi Anis melihat lahirnya para pelaku perusahaan rintisan ini tak didukung dengan lingkungan yang berada di sekitarnya. Maka wajar, apabila ada startup yang sulit untuk melanjutkan hasrat mereka.

"Tantangan yang dialami oleh Indonesia saat ini, yakni belum banyaknya investor, mentor, hingga pengetahuan. Rata-rata mereka belum tahu kalau permasalahan yang ada lingkungan kita bisa dijadikan sebuah solusi yang tersalurkan melalui startup yang mereka bikin," jelasnya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP