TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Demi Potensi Pulau Perbatasan, LIPI Kerahkan 23 Peneliti

LIPI terjunkan tim gali potensi di Perairan Sumba.
Demi Potensi Pulau Perbatasan, LIPI Kerahkan 23 Peneliti
Pulau Rondo, salah satu pulau terluar terletak di Aceh (Antara/ Irwansyah Putra)

VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengirim 23 penelitinya dari Pusat Penelitian Oseanografi, Pusat Penelitian Geoteknologi, dan Pusat Penelitian Laut Dalam, untuk menjalani ekspedisi penelitian kelautan di Perairan Sumba pada 4-26 Agustus.

Ekspedisi bertajuk Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) ini diselenggarakan guna menggali potensi laut yang dimiliki oleh Indonesia.

"Ekspedisi ini menjadi bagian dari komitmen besar pemerintah untuk memperhatikan pembangunan sektor kemaritiman khususnya wilayah perbatasan dan pulau-pulau terdepan Indonesia," tulis LIPI dalam keterangannya kepada VIVA.co.id, Selasa 2 Agustus 2016.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin menuturkan, pemilihan perairan Sumba sebagai tujuan ekspedisi karena diyakini memiliki sumber daya alam laut yang tinggi dan unik.

“Kawasan ini berada di bagian selatan zona transisi Wallacea, di mana karakteristik biogeografi Indo-Malaya dan Australasia bertemu. Namun demikian, data ilmiah yang akurat mengenai kondisi sumber daya hayati laut dan konektivitis ekologi kawasan ini masih sangat kurang,” ujar Zainal.

Padahal, kata Zainal,  informasi tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan pengelolaan sumber daya maritim, misalnya potensi perikanan dan kesehatan lingkungan perairan. Tidak hanya itu, kawasan Sumba merupakan salah satu kawasan tangkapan perikanan dan salah satu Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Selain itu, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah menyatakan, saat ini pemerintah juga tengah mencanangkan program tol laut yang salah satu fokusnya berada di Nusa Tenggara Timur.

“Seiring dengan peningkatan aktivitas pelayaran dan perikanan, potensi terjadinya pencemaran di kawasan ini akan tinggi. Ekspedisi ini akan memberikan baseline data mengenai kondisi kualitas perairan di kawasan tersebut,” ujar dia.

Dirhamsyah menuturkan, ekspedisi ini juga ditujukan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang pola arus dan suhu muka laut yang akan dipergunakan untuk model perubahan iklim dan prediksi suhu di kawasan NTT dan sekitarnya yang merupakan salah satu kontribusi Indonesia dalam studi perubahan iklim global.

Oleh karena itu ekspedisi ini diharapkan mampu menunjang dan memperkuat visi kemaritiman Indonesia. Pada tataran internasional, ekspedisi ini juga merupakan sumbangsih Indonesia di forum Indian Ocean Rim Association (IORA) dan program International Indian Ocean Expedition-2 (IIOE-2).

 

(ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP