TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Petelur.ID, Aplikasi untuk Peternak Kelas Bawah

Aplikasi itu membantu olah data kandang peternak
Petelur.ID, Aplikasi untuk Peternak Kelas Bawah
Peternak bebek di Kampung Bebek Sidoarjo Jawa Timur (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

VIVA.co.id - Badan Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) Indonesia meluncurkan aplikasi Petelur.ID, yang ditujukan untuk membantu peternak menengah ke bawah.

Aplikasi yang sudah tersedia di sistem operasi Android ini, atas kerja sama FAO dengan Perhimpunan Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (PDHPI) dan Intelijen Dynamics yang merupakan perusahaan IT pembuat aplikasi Petelur.ID.

Team Leader FAO Emergency Center for Tansboundary Animal Deseases (ECTAD), James McGrane mengatakan, aplikasi ini dibuat agar terjadi peningkatan yang lebih untuk keuntungan dan profit. Sebab, Petelur.ID merupakan platform yang digunakan oleh ‘anak kandang’ atau pegawai peternakan untuk mencatat seluruh kegiatan dan hasil dari produksi.

Sehingga, si pemilik kandang bisa mengontrol data tersebut kapan saja dengan akun sendiri pada platform yang sama. Jadi anak kandang dengan akun masing-masing, mengisi data seusai tugas, dan sebagai pengontrol, pemilik kandang bisa melihat data dari anak kandangnya.

“(Aplikasi ini dibuat) untuk mengelola data, dan mengetahui produktivitas dan kegiatan yang dilakukan dalam peternakan,” ujar McGrane dalam konferensi pers peluncuran aplikasi Petelur.ID di sela Seminar Nasional bertajuk ‘Ayam Sehat, Produktivitas Meningkat’ di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat 29 Juli 2016.

Pendiri PT Intelligence Dynamics, Dios Kurniawan mengatakan, adapun data yang ditanyai kepada anak kandang dalam aplikasi ialah yang berhubungan dengan parameter produksi, seperti jumlah telur, berat telur, penggunaan pakan dan lainnya.

“Datanya dijamin aman, karena hanya pemilik peternakan yang tahu,” ujar dia.

Erry Setyawan, Nation Technical Advisor FAO menjelaskan, latar belakang FAO membuat aplikasi Petelur.ID berawal dari kajian yang mereka lakukan ke peternak-peternak ayam.

“Faktanya, skala menengah kecil menggunakan data itu abai, jadi pengambilan keputusan itu kira-kira. Dari situlah kita ingin membuatkan alat (platform) itu,” jelas Erry.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP