TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Jurus Batan Atasi Masalah Polusi Udara

Kualitas udara perkotaan di Indonesia cenderung menurun
Jurus Batan Atasi Masalah Polusi Udara
Pengguna masker yang jumlahnya semakin meningkat di Jakarta akibat masih buruknya kualitas udara. (08/08). Foto:Vivanews/Anhar Rizki Affandi (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

VIVA.co.id - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) membuat inovasi pengidentifikasi pencemaran udara dengan Teknik Analisis Nuklir (TAN) dengan prioritas di kawasan perekonomian seperti transportasi dan industri di perkotaan.

Sektor tersebut menjadi perhatian karena volume pencemaran udara selalu mengalami peningkatan, terlebih di kawasan industri.

“Kualitas udara perkotaan di lndonesia menunjukkan kecenderungan menurun. Hal ini terjadi karena sumber pencemar telah melampaui daya dukung lingkungan,” ujar Kepala Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama Batan, Totti Tjiptosumirat di Bandung Jawa Barat, Kamis, 28 Juli 2016.

Totti menjelaskan, Batan mengimplementasikan TAN dengan mengkarakterisasi dan identifikasi terhadap sumber pencemar, dengan mengetahui jenis unsur dan kuantitasnya maupun sumber asal pencemaran.

Hal itu dilakukan karena salah satu aspek penting dalam konsep pengelolaan kualitas udara dan pengendalian pencemaran udara, yaitu tersedianya data karakterisasi dan identifikasi jenis polutan.

“Karakterisasi polutan udara merupakan langkah utama mengidentifikasi sumber pencemar, karena dapat menentukan penanggulangan yang tepat dan terarah,” ujarnya menambahkan.

Tak hanya itu, inovasi identifikasi sumber pencemar ini dapat digunakan instansi pemerintah untuk merumuskan konsep strategis menangani permasalahan polusi udara. Yaitu agar mendapatkan deskripsi komprehensif kualitas udara, data riset karakteristik partikular udara dan identifikasi jenis sumber pencemar harus spesifik.

“Kami menggunakan parameter utama polutan udara yang memiliki dampak signifikan pada kesehatan adalah partikulat udara atau particulote matter,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, partikulat udara yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM 2,5) tergolong sangat berbahaya. Dikarenakan mampu menembus bagian paru-paru dan jantung.

“Itu menyebabkan gangguan kesehatan, di antaranya infeksi saluran pernafasan akut, kanker paru-paru, penyakit kardiovaskuter bahkan dapat menyebabkan kematian.”

(mus)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP