TUTUP
TUTUP
TEKNOLOGI

Ini Alasan Hasil Inovasi RI Tak Laku di Dalam Negeri

Hasil riset yang tak sesuai pasar disinyalir jadi kendala.
Ini Alasan Hasil Inovasi RI Tak Laku di Dalam Negeri
Ilustrasi penelitian  (REUTERS / Sebastian Derungs)

VIVA.co.id - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mengatakan jumlah riset yang dihasilkan di Indonesia belum banyak yang bisa menembus ke tahap komersialisasi.

Mengutip data Business Innovation Center (BIC), Kemenristek Dikti menyebutkan dari 700 inovasi yang ada di Indonesia, hanya 18 persen yang bisa menembus tahap 'jadi' alias terkomersilkan.

I Wayan Budiastra, staf ahli Menristek Dikti Bidang Teknologi Komunikasi dan Transportasi mengatakan penyebab susahnya inovasi riset dari lembaga di Indonesia yaitu karena inovasi tidak memperhatikan permintaan di pasar.

Wayan membantah susahnya menembus pasar komersil bukan berarti teknologi inovasi peneliti RI kualitasnya jelek.

"Teknologinya yang bagus. Tapi tak perhatikan permintaaan pasar," ujar dia dalam seminar 'Menggali Potensi: Apakah Indonesia Siap Memimpin Inovasi?' di Hotel Kempenski, Jakarta, Selasa 28 April 2015.

Alasan lain hasil riset tak bisa laku di pasar yaitu teknologi tak efektif dan tak efisien, dan secara sosial teknologi tak seusai dengan kapasitas pengguna sehingga tak bisa diadopsi.

Data BIC menunjukkan dari 700 hasil riset tersebut secara rinci hampir separuhnya (41 persen) dalam proses tindak lanjut, terkomersilkan (18 persen), berhenti di tengah jalan (7 persen), gagal (2 persen) dan tidak ada informasi (32 persen).

Wayan memahami untuk bisa mengirimkan hasil riset ke tahap komersil di pasar memang tak mudah. Dia membandingkan bagaimana prosesnya hasil riset di AS juga sangat panjang.

"Penelitian dan pengembangan memang butuh biaya, tapi ini adalah investasi," kata dia.

Data yang ditunjukkan Wayan, sekitar 60 persen hasil riset di AS berakhir dengan kegagalan menembus pasar, sedangkan 40 persen masih bisa berlanjut.

Namun hasil riset yang berlanjut tersebut, hanya 22 persen yang diperkenalkan ke pasar. Kemudian 18 persen lainnya berhenti.

Selanjutnya dari 22 persen hasil riset yang diperkenalkan ke pasar, 60 persennya gagal secara ekonomi, sisanya 40 persen bisa masuk bertahan di pasar.

"Sayangnya dari itu hanya 8,5 persen dari semua hasil riset itu yang sukses di pasar," ujar Wayan.

Sementara data kementeriannya, di Indonesia dalam setahun muncul 14 ribu hasil riset dari perguruan tinggi dan 300-an dari Kemenristek Dikti. Tapi angka itu nyatanya belum membuktikan riset di Indonesia bisa laku di pasar dalam negeri.

Untuk hal ini, Wayan mengatakan perlu perubahan cara berpikir sebelum mengembangkan penelitian dan riset.

"Harus ada perubahan mindset, dari berbasis penawaran menuju berbasis permintaan," kata dia.

Selain soal kualitas hasil riset, wayaan juga menyoroti instrumen pendukung inovasi ilmu pengetahun yang tak optimal.

Dalam catatan Kemenristek Dikti, Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Peraturan Pemerintah No 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan, Inovasi dan Difusi Teknologi, tak banyak membantu mendongkrak hasil riset peneliti RI.

Peraturan pertama, kata dia, tidak optimal diimplementasikan oleh universitas dan lembaga riset. Sedangkan peraturan pemerintah selanjutnya tak secara luas diimplementasikan oleh perusahaan.

Alasannya insentif sebagai bagian dari tawaran pemerintah dianggap tak menarik entitas bisnis atau privat dibandingkan dengan negara lain.

Koordinasi antarlembaga yaitu Kemenristek Dikti dan Kementerian Keuangan untuk implementasi regulasi itu juga lemah.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP