TEKNOLOGI

Teleskop Pemburu 'Planet Bumi' Siap Pakai 2018

Teleskop ini dapat mendeteksi oksigen dan air pada atmosfer planet.

ddd
Jum'at, 26 April 2013, 12:27
Bintang Baru Lahir di Galaksi NGC 2841 (ilustrasi)
Bintang Baru Lahir di Galaksi NGC 2841 (ilustrasi) (space.com)
VIVAnews - Perkembangan teknologi memberikan kemudahan dalam menemukan planet layak huni di luar Bumi, setidaknya dalam waktu satu dekade mendatang.

Ya, ini bukan khayalan. Dilansir Scienceworldreport, 25 April 2013, peneliti sudah menyiapkan teleskop canggih, James Webb Space Telescope (JWST).

Konon, teleskop ini dapat mendeteksi sumber kehidupan, oksigen, dan air pada atmosfer planet mirip Bumi di alam semesta.

Hebatnya lagi, penemuan sumber kehidupan itu bisa dilakukan hanya dalam beberapa jam pengamatan, tidak sampai berbulan-bulan, apalagi tahunan. Teleskop itu akan diluncurkan oleh Badan Antariksa Nasional AS, NASA, pada tahun 2018 mendatang.

Pemburuan planet layak huni ini hanya memungkinkan pada white dwarf, atau sisa bintang besar yang mempunyai massa sebanding dengan Matahari dan volume sebanding Bumi.

White dwarf, bintang kerdil putih, merupakan bintang yang dianggap sebagai kandidat yang paling mungkin mendukung planet layak huni.

Peneliti menggunakan spektrum simulasi untuk menguji apakah JWST mampu mendeteksi sumber kehidupan pada atmosfer sebuah planet.

Spektrum sintetik itu direplikasi planet layak huni mirip Bumi yang mengorbit bintang white dwarf. Hasilnya, teleskop itu akan mampu mendeteksi planet tersebut.

White dwarf lebih cenderung merupakan rumah planet mirip Bumi karena bintang ini berlimpah unsur berat pada permukaannya.

Unsur-unsur berat menunjukkan bahwa planet berbatu, seperti Bumi, mengorbit sebuah kelompok yang signifikan dari mereka.

Peneliti meyakini dalam sebuah survei, 500 white dwarf terdekat bisa berisi satu atau lebih planet yang dapat dihuni.

Guna mendeteksi planet tersebut, peneliti memanfaatkan karakteristik unik dari white dwarf, yang memudahkan penemuan planet layak huni.

Atmosfer planet dapat dideteksi dan dianalisis ketika bintang white dwarf meredup dan planet yang mengorbit bintang melintas di depannya.

Karena latar belakang cahaya bintang melalui atmosfer planet, unsur dalam atmosfer akan menyerap beberapa cahaya bintang, yang akhirnya meninggalkan petunjuk kimia. Petunjuk inilah yang akan dideteksi oleh teleskop JWST.

Sedangkan pendeteksian peredupan cahaya pada planet yang mengorbit bintang biasa, akan lebih sulit dilakukan.

"Kesulitannya terletak pada peredupan ekstrim sinyal, yang tersembunyi dalam sorotan cahaya dari bintang induk," kata Dan Maoz, salah satu peneliti dari Tel Aviv University.

"Jika bintang induk merupakan white dwarf berukuran sebanding planet sebesar Bumi, cahaya silau sangat berkurang, dan kita sekarang secara realistis dapat memikirkan tentang keberadaan oksigen," jelasnya.

Namun, saat ini, semuanya masih sebatas wacana dan khayalan. Mari kita tunggu hasil pengamatan JWST pada 2018 nanti. (ren)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id