TEKNOLOGI

Angkatan Laut AS Perkenalkan Senjata Laser Tercanggih

Diyakini sangat hemat biaya. Satu tembakan berbiaya tidak sampai US$1
Selasa, 9 April 2013
Oleh : Renne R.A Kawilarang
Senjata laser LaWS milik Angkatan Laut AS
VIVAnews -Angkatan Laut Amerika Serikat awal pekan ini mengumumkan siap mengerahkan senjata tercanggih dalam waktu dekat di kapal perang mereka. Ini berupa senjata laser yang bisa menembak jatuh pesawat nirawak ukuran kecil dan melumpuhkan kapal musuh.

"Masa depan sudah tiba," kata Peter Morrison dari Kantor Penelitian Angkatan Laut AS, seperti dikutip kantor berita Reuters, dengan bangga. Dia khusus bekerja di bagian Program Teknologi Laser Angkatan Laut AS.

Bernama Laser Weapon System (LaWS), senjata ini digadang-gadang sebagai langkah maju untuk mengubah moda peperangan. LaWS bergantung pada energi listrik sehingga hemat biaya. Satu tembakan seharga tidak sampai US$1.

"Bandingkan dengan ratusan ribu dolar yang harus dikeluarkan untuk menembakkan sebuah rudal, kapabilitas senjata ini sangat berguna," kata Laksamana Muda Matthew Klunder, Kepala Penelitian Angkatan Laut AS dalam laman resminya.

Menurut seorang pejabat, biaya pembuatan satu unit LaWS antara US$31 juta hingga US$32 juta. Prototipe senjata itu akan dipasang di kapal perang USS Ponce, yang tengah dikerahkan di perairan Timur Tengah. Senjata itu disiapkan mulai dipakai pada tahun fiskal 2014.

Klunder mengungkapkan bahwa senjata ini juga disiapkan menangkal datangnya rudal musuh. Rudal apapun diyakini tidak akan bisa menghindar dari tembakan LaWS yang berkecepatan cahaya.

Kongres AS memuji kecanggihan senjata laser milik Angkatan Laut itu. Namun, Kongres juga mencatat sejumlah kekurangan, salah satunya laser itu bisa berbahaya bagi satelit maupun pesawat lain yang berada di sekitar sasaran. Selain itu, kemampuan teknologi laser masih harus diuji lagi bila digunakan di cuaca ekstrem.

"Laser bisa jadi tidak akan bisa berfungsi baik, atau bahkan tidak berfungsi sama sekali, di tengah hujan maupun kabut. Ini harus dibuktikan di kondisi cuaca apapun," demikian laporan dari Kongres pada 14 Maret lalu. 
TERKAIT
TERPOPULER