TEKNOLOGI

Seperti Apa Wujud "Orang Pendek" di Riau?

Seorang saksi, pekerja tukang bangunan, berbagi kisahnya.
Jum'at, 29 Maret 2013
Oleh : Muhammad ChandratarunaAli Azumar (Riau)
Rekonstruksi wajah Homo florensiensis, spesies orang pendek di Flores
VIVAnews - Keberadaan "Orang Pendek" punya cerita tersendiri di berbagai daerah. Sama seperti kawasan lainnya, Riau juga punya kisah dan fakta menarik.

Menurut penelusuran VIVAnews ke sejumlah narasumber, keberadaan "Orang Pendek" di Riau memang diakui. Tapi, tak sedikit pula yang menyakininya sebagai mitos.

Seperti diungkapkan Ade, pekerja bangunan. Menurut pengakuannya, ia pernah melihat langsung "Orang Pendek" saat bekerja di kawasan hutan Zamrud, Kabupaten Siak, Riau.

"Kejadiannya sekitar tahun 2007. Waktu itu, saya diajak kawan bekerja membangun kantor Badan Otoritas Bersama (BOB)," kisahnya pada VIVAnews.

BOB merupakan perusahaan konsorsium PT Bumi Siak Pusako dan PT Pertamina Hulu yang mengeksplorasi kandungan minyak di kawasan Zamrud.

"Tempat kerja kami itu berlokasi di dalam kawasan hutan. Setelah selesai kerja, sekitar pukul 5 sore, kami pergi cari burung. Waktu itulah, saya melihat orang pendek ini (di hutan). Mereka jumlahnya tiga orang," kata Ade.

Saat itu, dia beserta keempat kawannya tidak berani mendekati "Orang Pendek" itu. "Kami terdiam, takut. Bola mata kami hanya melihat mereka melintas. Jalannya sangat cepat," kenang Ade.

Dari sosok yang ia lihat, menurut Ade, ketiga orang pendek itu tingginya sekitar satu meter. "Mereka tidak memakai baju. Badannya dipenuhi bulu-bulu hitam," ujarnya.

Dan, kaki mereka memang terbalik. "Jari kakinya menghadap ke belakang. Itu yang membuat kami takut dan bergeming," tukas Ade.

Penelitian 1998

Juru Bicara WWF Riau, Syamsidar menyebutkan, bahwa cerita "Orang Pendek" ini pernah juga jadi pembicaraan kalangan masyarakat di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, yang juga disebut Bukit Tigapulah.

Taman Nasional ini terletak di provinsi Riau dan Jambi. Taman seluas 143.143 hektar ini terdiri dari hutan hujan tropis, dan terkenal sebagai tempat terakhir spesies terancam, seperti orangutan Sumatera, harimau Sumatera, gajah Sumatera, badak Sumatera, tapir Asia, beruang madu dan berbagai spesies burung yang terancam.

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh juga merupakan tempat tinggal bagi Orang Rimba dan Talang Mamak.

"Karena cerita ini pernah mencuat, pada tahun 1998, ada salah seorang peneliti datang untuk meneliti keberadaan orang pendek ini," papar Syamsidar pada VIVAnews.

Hanya saja, hasil penelitian tersebut tidak dipublikasikan karena peneliti gagal menemukannya. (sj)
TERKAIT
TERPOPULER