TEKNOLOGI

FOTO: Blogger Dunia Pun "Terjebak" Keindahan Batik

Mereka mempelajari filosofi batik, ketelatenan dan kesabaran.
Jum'at, 9 November 2012
Oleh : Wuri Handayani, Rizky Sekar Afrisia
Mereka juga belajar filosofi batik.

VIVAlife - Eksotisme batik Indonesia, menggelitik para fashion blogger internasional. Sejak ditasbihkan menjadi warisan budaya asli Indonesia oleh UNESCO, batik langsung diusung menjadi ikon sekaligus identitas bangsa.

Tiga fashion blogger yang diundang Shinta W. Dhanuwardoyo, pemilik www.bubu.com, serta didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, datang untuk mengenal lebih jauh tentang batik. 

Kemarin, VIVAlife berkesempatan mengikuti kegiatan enam fashion blogger ini. Dua dari Amerika, satu dari Filipina, dan tiga dari Indonesia.

Para blogger ini mengunjungi Museum Tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pertama menginjakkan kaki di bangunan berkonsep tradisional, mereka langsung terkagum-kagum. Christina Caradona dan Christina Topacio, dua fashion blogger asal Amerika, sibuk menjepretkan kameranya pada objek humanis di sekitar mereka.

Setelah memasuki ruang workshop batik, mereka menjadi lebih antusias lagi. Di sana, mereka diberi selembar kain dengan motif yang berbeda-beda, kemudian duduk melingkar menghadapi kompor berisi malam cair. Mereka langsung mengambil canting, menyelupkan pada malam, dan menorehkannya pada kain, mengikuti sketsa motif masing-masing.

Meski baru pertama kali, dan sempat berteriak-teriak heboh meminta bantuan mengaplikasikan canting, mereka tampak begitu menikmatinya. Usai menggambar, mereka membubuhkan nama masing-masing sebagai identitas. Seakan sangat membanggakan karya batik pertamanya.

Sementara itu, Tricia Gosingtian, fashion blogger asal Filipina, lebih banyak diam dan asyik menekuni kainnya. Pelan-pelan, dengan rapi ia membuat garis-garis di kain itu dengan cantingnya. Dua blogger asal Indonesia, Sonya Eryka dan Tara Amelz, tampak lebih terlatih menghadapi kain dan canting.

Selesai dengan canting, mereka pun ikut ke "dapur" untuk memberi warna pada kainnya. Tanpa ragu, mereka memakai sarung tangan plastik besar, kemudian beberapa kali mencelupkan kain masing-masing ke warna yang diinginkan.

Tricia bahkan berinovasi dengan mencampurkan kedua warna, biru dan merah, agar karyanya berbeda dari yang lain. Ketiga fashion blogger kelas dunia itu, sangat menikmati pengalaman pertama membuat batik, meski hanya selembar kain kecil. Mereka mencelup-celupkan kainnya sambil tertawa dan antusias, bahkan beberapa kali minta diabadikan, seperti pada foto-foto ini. 

Bagi Christina dan Tricia, ini proses yang membuat mereka memahami betapa rumitnya pembuatan batik tulis. Mereka bukan hanya harus hati-hati menggunakan canting di atas kain yang tak bisa dihapus dan diulang lagi, tetapi juga harus menunggu kain itu diberi parafin, dicelupkan warna, direbus, sampai dijemur hingga kering dan bisa digunakan. Tanpa sadar, mereka telah mempelajari filosofi batik yang penuh kesabaran dan ketelatenan.

Usai belajar membuat batik sendiri, mereka juga diajak ke dalam museum untuk melihat berbagai jenis kain batik dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah itu, para fashion blogger itu bertolak ke "Jakarta Fashion Week 2013" untuk menyaksikan salah satu show batik karya Obin.

Hari ini, Jumat, 9 November 2012, mereka berkeliling tanah batik, seperti Pekalongan dan Yogyakarta, untuk lebih mendalami lagi wujud budaya Indonesia. Pada VIVAlife, Christina dan Tricia meyakinkan jika mereka pasti akan menuliskan pengalaman berharganya itu di pada blog masing-masing, sehingga seluruh dunia mengenal batik. (art)

TERKAIT
TERPOPULER