TEKNOLOGI

Tiga Orang Ini Menyelamatkan Anda saat Gempa

Penyelamatan diri dari gempa di gedung bertingkat membutuhkan pertolongan tiga petugas.
Kamis, 19 April 2012
Oleh : Karlina Octaviany
foto simeulue dari udara pasca gempa

VIVAnews - Belum banyak pengelola gedung yang menyadari ancaman
gempa bagi penghuninya. Menurut Ketua Umum Jakarta Rescue, R.
Hadianto, kesadaran baru timbul ketika korban gempa di Aceh lalu
minim. Pekerja dalam gedung bertingkat pun tidak berhamburan
panik ke luar gedung. Semua karena pelatihan secara intensif.

Perlu panduan yang jelas agar penghuni gedung bertingkat dapat
selamat. Dari pihak pemilik gedung harus bisa menyosialisasikan
kepada penyewa ruangan mengenai cetak biru gedung. Sebagai
langkah pemberitahuan, cetak biru ini harus ditempel di dinding
gedung agar dapat diketahui penyewa (tenant). Setiap penyewa
baru gedung perlu mendapat orientasi mengenai struktur gedung. 

Pemilik gedung juga perlu menentukan area aman (assembly point) untuk jalur evakuasi. Unit-unit manajemen penyewa perlu siaga bencana dengan membentuk tim khusus.

Tugas Tiga Penyelamat

Penyelamatan saat gempa memerlukan tiga wakil untuk menuntun
saat kepanikan melanda. Floor Captain (Kapten Lantai) diperlukan
untuk mengordinasi penghuni lantai dalam proses evakuasi. Building Commander (Komandan Gedung) berperan sebagai orang yang paling mengetahui kondisi gedung. Incident Manager (Manajer Kecelakaan) bertugas mengatur keseluruhan penanganan kondisi darurat pada gedung. Manajer ini harus dapat mengambil keputusan untuk Sistem Komando Pengendalian Lapangan (Incident Command System). Ketiga orang ini wajib mengenali jalur evakuasi dan kondisi gedung.

Building Commander harus mengetahui kekuatan dan kelemahan gedung, kemungkinan bencana, dan prosedur evakuasi. Petugas ini akan mengenakan lambang penanda Building Commander. Daftar informasi berikut detail mengenai lokasi aktivasi alarm, jumlah korban, dan keamanan lokasi harus lengkap.

Incident Manager dipegang oleh pejabat senior dengan level tertinggi yang telah memiliki kualifikasi khusus dalam tindak penyelamatan. Sistem Komando Pengendalian Lapangan memerlukan Pusat Komando (Incident Base), Pangkalan Aju (Staging Area), dan Pangkalan Kejadian Darurat.

Program penyelamatan darurat memerlukan pembuatan Prosedur Operasional Evakuasi Darurat (Emergency Evacuation Operation Procedure) yang meliputi jalur evakuasi, tempat pertemuan, area
aman, dan sistem alarm. Menurut Hadianto, sistem alarm cepat tanggap harus dipersiapkan khusus untuk mendeteksi gempa.
 
Sebagai penghuni gedung, Anda bisa menyiapkan beberapa alat sebelum terjadi bencana. Peluit, helm, jaket, dan lampu kepala menjadi beberapa perangkat yang dapat berguna.

Berlatih agar Selamat


Simulasi evakuasi saat gempa dapat mengenalkan langkah penyelamatan kepada penghuni gedung. Menurut Hadianto, langkah pengurangan risiko ini tidak bisa dianggap sepele.

Sebelum institusi melakukan pelatihan, perlu ada diskusi bersama untuk membicarakan sistem keamanan. Analisa gedung pun perlu dilakukan.

Hadianto mengatakan Jakarta Rescue merupakan organisasi yang memiliki sertifikasi internasional untuk menggelar pelatihan penanganan gempa pada bangunan gedung bertingkat. Selama ini banyak yang masih salah menilai tim penyelamat.

"Rescue itu kan menyelamatkan orang hidup. Bukan untuk mencari mayat," ujar pembicara dalam berbagai seminar ini.

Menurut Hadianto, perlu kesadaran untuk siap mengantisipasi bencana gempa. Berbagai instansi harus menyadari ancaman ini dapat berakibat fatal. Tanpa pelatihan yang tepat, risiko kematian akan membayangi.(sj)

TERKAIT